Header Ads

Mencari Indonesia

Oleh : Cahyadi Takariawan

Saat ini kita menemukan peristiwa bersejarah yang langka. Momentum 17 Agustus 1945, saat proklamasi Kemerdekaan RI, ternyata bertepatan dengan bulan Ramadhan 1364 H. Saat ini, 17 Agustus 2011, bertepatan pula dengan 17 Ramadhan 1432 H, kita memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke 66 dalam hitungan Masehi, namun menjadi ulang tahun yang ke 68 dalam hitungan Hijriyah, yaitu dari Ramadhan 1364 H – Ramadhan 1432 H.

Usia bangsa dan negara Indonesia dihitung dari Proklamasi kemerdekaan sudah 66 tahun masehi atau 68 tahun hijriyah. Sebuah bilangan yang masih muda jika dibanding dengan negara yang tua seperti Amerika, namun bilangan yang cukup tua jika dibanding dengan negara-negara yang baru saja muncul seperti Timor Leste. Pada usia ini, muncul sebuah pertanyaan, siapakah kita sebenarnya ? Apakah definisi negara Indonesia pada usia yang ke 66 saat ini ?

Pada generasi pertama pembangunan Indonesia, para founding fathers negeri ini telah merangkai mimpi tentang Indonesia masa depan. Perhatikan ungkapan Hatta berikut. “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik, karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya”.

Nama Indonesia telah ditetapkan dan telah diproklamasikan. Kini kita sebagai anak bangsa berusaha untuk mengisi hari-hari setelah Proklamasi, dengan terus mencari makna yang paling tepat dari Indonesia. Bagaimana kita memahami arti Negara Kesatuan republik Indonesia? Bagaimana kita mendefinisikan diri di hadapan dunia ? Bagaimana kita menjelaskan dan mewariskan sebuah makna Indonesia kepada generasi penerus bangsa ?

Pada kenyataannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari 17.504 pulau, termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni. Ini merupakan anugerah Allah yang tidak ternilai harganya, yang menyebabkan bangsa Indonesia bisa memiliki kebesaran hati serta tidak merasa rendah di dunia internasional.

Indonesia juga merupakan negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93.000 km2 dan panjang pantai sekitar 81.000 km atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Dari potensi ini, telah menampakkan bahwa Indonesia memang negara kepulauan atau negara maritim yang sangat besar potensinya. Bahkan, tiga dari enam pulau terbesar di dunia ada di Indonesia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dengan luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).

Indonesia juga merupakan negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa atau etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku. Indonesia juga negara dengan bahasa daerah yang terbanyak di dunia, yaitu, 583 bahasa dan dialek, dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia. Ini menunjukkan potensi keragaman anak bangsa yang mampu dihimpun dalam sebuah rumah besar bernama Indonesia. Kendati beragam suka, etnis, bahasa, dialek, warna kulit dan agama, namun kita bisa merasakan kebersamaan dalam aneka perbedaan.

Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia. Maka wajar jika Indonesia memiliki jumlah masjid terbanyak dan menjadi negara asal jamaah haji terbesar di dunia. Jumlah total penduduk Indonesia adalah 238 juta. Ini peringkat 4 dunia setelah China (1,3 milyar), India (1,1 milyar) dan Amerika (310 juta). Indonesia memiliki 2.700-an perguruan tinggi dengan 14.500 prodi dan 1,9 juta mahasiswa. Indonesia masuk dalam 9 besar negara dengan mahasiswa terbanyak. Amerika memiliki 14,3 juta mahasiswa, India 6 juta, dan Jepang 4 juta.

Indonesia dikaruniai Allah amat sangat banyak kekayaan alam, di antaranya berupa bahan galian terbanyak di dunia. Coba sedikit saja kita tengok kekayaan bahan galian kita. Tambang alumunium terdapat di Papua. Tambang asbes terdapat di Jawa, Maluku dan Papua. Tambang aspal di Buton. Tambang batubara di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Jawa dan Papua. Tambang bauksit di Kalimantan dan Sumatera. Tambang belerang di Sulawesi dan Jawa. Tambang bijih besi di Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. Tambang emas dan perak di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Tambang fosfat di Jawa. Gas alam di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Gips terdapat di Sulawesi, NTB dan Jawa. Tambang grafit di Sumatera. Tambang granit di Jawa dan Sumatera. Intan terdapat di Kalimantan. Tambang kapur di Sulawesi, NTT dan Jawa. Tambang Mangaan di Sulawesi, Jawa, NTB dan Sumatera. Tambang marmer di Jawa, Sumatera dan Papua. Tambang mika di Sulawesi. Tambang minyak bumi tersebar hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Tambang nikel di Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Papua.

Pasir Kwarsa terdapat di Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Tambang perunggu terdapat di Sulawesi. Bahan semen terdapat di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Tambang tembaga di Papua, Sulawesi dan Jawa. Tambang timah di Sumatera. Tambang yodium di Jawa. Garam batu terdapat di Maluku. Tambang tras di Jawa dan Sumatera. Indonesia memiliki cadangan minyak sebanyak 9,7 juta barrel dan cadangan gas alam sebanyak 146,7 triliun kaki kubik.

Kurang apa lagi ? Indonesia memiliki kekayaan alam yang lengkap. Kita memiliki laut yang sangat luas, memiliki gunung, memiliki hutan, memiliki banyak sungai, memiliki sumber air bersih yang memadai, bahkan memiliki salju abadi di wilayah Papua. Matahari bersinar dengan sangat terik di musim kemara, hujan turun dengan deras pada musim penghujan. Kita tidak perlu kedinginan karena tidak ada musim dingin, dan tidak perlu kepanasan karena tidak memiliki musim panas.

Dari segi budaya masyarakat, Indonesia terkenal memiliki modalitas sosial yang sangat kuat. Budaya gotong royong, tepo sliro (toleransi), saling membantu, merupakan modal yang sangat diperlukan untuk kebaikan masyarakat. Bahkan The Smiling Report 2009 yang digelar Mystery Shopping Providers di Swedia, menempatkan Indonesia sebagai negara tertinggi tersenyum dengan nilai 98 persen. Selanjutnya, Indonesia merupakan negara dengan ucapan salam yang paling tinggi, yaitu 98 persen.

Namun, di balik berbagai potensi tersebut, kita merasakan ada banyak hal yang masih mengganjal di hati kita. Perasaan kebangsaan kita sering terusik, menyaksikan berbagai ketidakjelasan arah pembangunan di Indonesia. Akhirnya muncullah pertanyaan, sebenarnya siapakah kita ? Apakah definisi Indonesia yang kita kehendaki bersama ?

“Sulit dipahami bahwa negara Indonesia yang telah melahirkan tokoh sekelas Soekarno yang sangat berpengaruh dalam peta politik dunia, melahirkan organisasi massa Serikat Islam terbesar di dunia, tetapi makna Indonesia sendiri kini telah hilang”, kata Max Lane, guru besar dari University of Sydney.

Ungkapan Max Lane jelas menggambarkan kekaburan makna Indonesia. Coba perhatikan, jika memang Indonesia ingin menjadi negara kepulauan atau negara maritim, semestinya titik perhatian pembangunan kelautan harus sangat kuat. Namun kita tidak melihat arah perhatian itu. Tidak tampak sentuhan perhatian yang memadai untuk menguatkan sektor kelautan. Kata seorang teman, ini karena “masyarakat tetap tinggal di darat, walaupun wilayah Indonesia sebagian besarnya adalah laut”.

Prof. Dorodjatun Koentjoro-Jakti sering menyebut istilah pembangunan Indonesia itu “melawan fitrah”. Kita sangat memperhatikan pembangunan di darat, namun tidak memiliki perhatian yang memadai dalam membangun potensi kelautan. Padahal Tuhan memberikan potensi alam Indonesia yang sebagian besarnya berupa laut, semestinya ada konsentrasi perhatian untuk mengokohkan pembangunan wilayah laut dan kepulauannya.

Ini contoh saja, sebuah dialektika tentang arah pembangunan wilayah Indonesia. Belum lagi dialektika arah pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, sosial, politik, seni, budaya, militer, hankam, dan seterusnya. Seluruhnya masih berada dalam wilayah diskusi panjang, akan dibawa kemana negara kita kini dan di masa depan ?

Baiknya kita mulai dari awal. Berbincang lagi sejak masa sebelum kemerdekaan, merenda arah yang pernah digagas generasi terdahulu. Menengok berbagai potensi asli bangsa Indonesia sejak sebelum kemerdekaannya, untuk kita bawa ke dalam alam kekinian. Namun sayang, usaha inipun tidak berjalan mulus, karena, “Satu-satunya negara yang tidak mengajarkan sastranya sendiri kepada anak sekolah ialah Indonesia. Sastra dimasukan ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia”, ungkap Max Lane.

Semestinya kita kembali belajar sejarah, dan mencoba bertanya kepada para pelaku sejarah, bagaimana pikiran generasi terdahulu mengenai arah Indonesia. Sayang, usaha inipun buntu, karena, “Pelajaran sejarah di Indonesia hanya berisi judul buku, tahun terbitan dan penerbit buku, tanggal dan tahun kejadian. Tidak ada upaya mencari makna di balik itu”, tulis Max Lane.

Jadi kita berhenti saja di sini. Pada bulan Ramadhan 1432 H, tanggal 17, bertepatan pula dengan 17 Agustus 2011. Enampuluh enam tahun atau enampuluh delapan tahun lalu, kita berdiri sebagai bangsa, berbangga di hadapan dunia. Dengan lantang kita mengatakan “Merdeka”. Kini, kata apa lagi yang akan kita teriakkan dengan lantang kepada dunia ? Kata apa yang menyatukan bangsa kita ?

“Bagaimanapun, kami mencintai Indonesia !”

Hanya itulah kalimat yang mampu kita kumandangkan kepada dunia dengan bangga.
Ya, hanya itu.
Hanya itu.

sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1468

No comments

Powered by Blogger.