Header Ads

Rakyat Mesir dan Pemilu 2011-2012 (Ulasan Pemilu Mesir 2011)

Rakyat Mesir dan Pemilu 2011-2012 (Berikut ini adalah ulasan hasil Polling yang diadakan oleh Pusat Penelitian Politik dan Strategi (P3S) Harian surat kabar Al-Ahram (Edisi Hari Sabtu, 5 November 2011) tentang opini masyarakat mengenai partisipasi politik dan partai selama bulan Oktober 2011-menjelang berlangsungnya Pemilu DPR, MPR dan Presiden- dengan tingkat kesalahan 2-3 %) Polling yang diadakan oleh Pusat Penelitian Politik dan Strategi (P3S) Harian Al-Ahram tentang opini masyarakat mengenai partisipasi politik dan partai menyatakan bahwa masalah yang paling menjadi pusat perhatian masyarakat Mesir pada saat ini adalah permasalahan ekonomi. Naik menjadi 65,2% pada bulan oktober dari 57,4% dari hasil Polling yang diadakan pada bulan Agustus lalu. Perhatian masyarakat tentang keamanan dan stabilitas dalam negeri turun dari 28,4% di bulan Agustus menjadi 18,3% pada bulan Oktober. Dr. jamal Abdul Jawad, Pengawas penelitian P3S Harian Al-Ahram menerangkan bahwa penilaian masyarakat tentang kesiapan Pemerintah Mesir menyambut Demokrasi turun dari 65,7% pada bulan september menjadi 59% pada bulan Oktober. Sedangkan penilaian negatif publik terhadap kesiapan Mesir menuju Demokrasi naik menjadi 41% di bulan Oktober dari 34,3% pada bulan September. Sedangkan kecemasan publik terhadap situasi dan kondisi yang sedang bergejolak di Mesir meningkat menjadi 51,9% di bulan Oktober yang sebelumnya hanya 38,9% pada bulan Agustus. Sedangkan hipotesis terburuk yang berkembang di Mesir menyebutkan bahwa 60,5% masyarakat khawatir terhadap tidak adanya keamanan dalam negeri dan meningkatnya indikasi kerusuahan dan kekacauan, dibandingkan dengan tingkat kecemasan sebelumnya yang mencapai 59,4% pada bulan Agustus. Terkait dengan pemenang Partai Politik di Mesir: 35,5% masyarakat memilih partai Hizbul Hurriyah Wal 'Adalah (Freedom and Justice Party- dari Ikhwanul Muslimin-). 26,8% memilih partai Hizbul wafd dan 8,4% memilih partai Hizbun Nur- Salafy-. 64,5% masyarakat yakin pemilihan umum nanti akan lebih baik dari pemilu yang sebelumnya. 41,9 % masyarakat menilai Undang-Undang Pemilu sekarang lebih baik dan 28% masyarakat menginginkan penambahan kursi parlemen. Penilaian masyarakat terhadap kinerja Dewan Tertinggi Militer (SCAF) Mesir turun dari 44,6% pada bulan Agustus menjadi 40,6% pada bulan Oktober. Sedangkan kepercayaan masyarakat terhadap Dewan Militer dalam menjalankan fungsinya di masa-masa transisi terkait pengamanan situasi dan kondisi ketika transisisi Demokrasi mencapai 89,4% di bulan Oktober berbanding 92,8% pada bulan Agustus. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Peralihan kekuasaan pemerintahan kota turun menjadi 88,3% pada bulan Oktober dari 99,2% pada bulan Agustus. Keyakinan publik terhadap pelaksanaan pemilu yang bebas turun menjadi 91,7% di bulan Oktober dari 95,7% pada bulan Agustus. Dan pemeriksaan simbol pemerintahan sebelumnya menjadi 78,9% pada bulan Oktober dari 86,1% pada bulan Agustus.
Persentase masyarakat yang lebih menginginkan sistem Negara yang berbentuk Pemerintahan Islam naik menjadi 45,6% pada bulan Oktober dibandingkan pada bulan Agustus yang mencapai 42,9%. Sedangkan kecendrungan masyarakat terhadap sistem Demokrasi turun menjadi 44,3% di bulan Oktober dari 49,9% pada bulan Agustus. 10,1% masyarakat memilih Negara yang kuat walaupun tanpa Demokrasi dari 7,2% pada bulan Agustus. Pengumuman hasil Polling ini disampaikan oleh Pengawas P3S harian Al-Ahram dalam seminar yang diadakan oleh P3S Harian Al-Ahram untuk pengumuman hasil Polling masyarakat terhadap partisipasi politik dan partai politik yang diadakan pada bulan Oktober lalu. Diya' rusywan, Pimpinan P3S Harian Al-Ahram menyatakan bahwa dalam jadwal P3S akan mengadakan tiga Polling publik yang diadakan sebelum masa-masa pemilhan umum untuk mengetahui opini terbaru masyarakat. Hasil Polling juga menegaskan bahwa Amru Musa menempati posisi teratas dalam peningkatan tanggapan positif masyarakat terhadap pencalonan presiden, disusul Ahmad Syafiq, Umar Sulaiman, Aiman Nur, Hamdain Subhi dan Salim Al-Awwa. Sedangkan Dr. Muhammad el-Baradai, Murtadha Mansur, dan Butsainah Kamil menempati urutan teratas yang mendapatkan stigma negatif masyarakat dalam pencalonan presiden saat ini. Amru Musa memperoleh poling suara untuk menjadi presiden Mesir sebanyak 41,1%, Ahmad Syafiq 8,9%, Umar Sulaiman 7,3%, dan Salim Al-Awwa 5,8%. Sedangkan pencalonan Dewan Militer terhadap jenderal mencapai 14,7 %. Sebesar 76,2% masyarakat memastikan niat mereka untuk ikut andil dalam pemilu parlemen mendatang, 20,6% menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam pemilihan, sedanagkan 3,2% masih ragu untuk berpartisipasi atau tidak. Hasil Polling juga menyatakan bahwa 35,5% masyarakat memutuskan akan memberikan suara mereka untuk partai Hizbul Hurriyah Wal 'Adalah, 26,8% untuk partai Hizbul wafd, 8,4 % untuk partai Hizbun Nur, 5,1% untuk partai Hizbul 'adl, 3,8% untuk partai Hizbul Ittihad, 3,7% untuk partai Hizbul Misriyyin Al-ahrar. Partai Hizbul Hurriyah Wal 'Adalah memperoleh 18,4% dalam pelaksanaan kegiatan disekitar daerah para sampel jajak pendapat, disusul Hizbun Nur, Al-wafd, Almisriyyin Alahror, dan Alwasth. 20,2% publik setuju terhadap pendirian partai hizbu shufi dan hizbu rofdh. 54,7% menyatakan kesetujuan agar partai tersebut mendirikan koalisi sendiri, sedangkan 37,5% lebih setuju agar mereka masuk dalam koalisi islami. Data Polling menyebutkan bahwa 64,5% masyarakat yakin bahwa pemilihan Majelis Sya'b (DPR) yang akan datang jauh lebih baik dari pemilihan sebelumnya. 3,6% berpendapat pemilihan nanti akan jauh lebih buruk dari pemilihan sebelumnya. 41,9% berpendapat bahwa Undang-Undang Pemilu sekarang lebih baik. 28% rakyat menginginkan penambahan kursi parlemen. 8,6% menegaskan kewajiban mengikuti undang-undang yang telah sempurna. Untuk kepopuleran partai, Hizbul Wafd adalah partai terpopuler disusul Hizbul Hurriyah Wal 'Adalah, Al-ghad, Annur, Tajammu', Al-misriyyin Al-ahrar, dan Al-arobi An-nashiri.
Hasil Polling menjelaskan bahwa 59% masyarakat yakin tentang kesiapan masyarakat Mesir menuju Demokrasi , sedangkan 41% menyatakan tidak siap. 36,7% berpendapat bahwa setelah tahun ini Mesir akan menjadi Negara Demokrasi, 45,2% berpendapat akan menjadi seperti Negara Demokrasi, 13,9%
berpendapat akan seperti Negara yang sebelumnya, 4,2% berpendapat bahwa Mesir akan menjadi Negara kesultanan. 51,9% pendududk yang dijadikan sampel Polling menyatakan kecemasan luar biasa terhadap situasi dan kondisi yang sedang bergejolak di Mesir sekarang. Harapan penduduk terhadap terciptanya kemajuan turun menajadi 17% dan harapan terciptanya stabilitas dalam negeri turun menjadi 13,1% pada bulan Oktober. Hipotesis terburuk yang sedang berkembang di Mesir "berlanjutnya kondisi hilangnya keamanan dan meningkatnyta indikasi kekacauan dan kerusuhan" menempati urutan pertama dengan persentase 60,5% dari pendapat publik. Penguasaan aliran islam terhadap hukum meningkat menjadi 22,6%. Sedangkan pendapat publik terhadap hukum militer menurun menjadi 13,8%. Tuntutan terhadap pemulihan kondisi keamanan Mesir pada saat sekarang, seperti tujuan Negara mencapai 59,1% dan perlindungan kebebasan berpendapat mencapai 4,8%. Sedangkan penilaian " bagus sekali" terhadap kinerja Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) Mesir turun menjadi 40.6%, dan penilaian buruk mencapai 8,4%. Kepercayaan publik terhadap kinerja Dewan Militer dalam menjalankan tugasnya pada masa transisi dan pengaturan situasi dan kondisi terkait transisi Demokrasi juga turun menjadi 89,4%.
(Diterjemahkan oleh: Muhammad Padhli dan Muhamad Syadid-The Indonesian Institute For Middle East Research-) Sumber: surat kabar Al-Ahrom, halaman 4, rubrik al-Tsauroh dan parlemen, reporter: Muhammad Hijab. Edisi tanggal 5 November 2011.

No comments

Powered by Blogger.